Selamat Datang Di blog Saya. dukungan anda semua sangat saya harapkan. mohon dukungannya agar aku dapat kembali ikut ibu, Terima Kasih atas dukungannya. Salam dariku ICHAD

Senin, 06 September 2010

CATATAN PELARIANKU 1

Hari Rabu, tanggal 21 Juli 2010, aku kabur dari rumah bapak di jl. Primatama no. 76-77 perum taman setiabudi, Banyumanik, Semarang ke rumah ibu di jl. Borobudur Utara raya no.40, Manyaran. Perjalanan yang aku tempuh bisa dibilang mengerikan untuk anak seumuranku. Jadi waktu itu, aku sudah menyiapkan semua barang-barang  yang akan kubawa.  Sebenarnya ak sudah merencanakan pelarian ini sejak 6 bulan yang lalu, tapi aku belum berani bertindak.  Aku juga tidak pernah cerita dengan ibu, karena  aku takut kalau ibu cerita sama adik, terus adik cerita dengan bapak. Waktu itu, aku menawari adikku untuk ikut lari juga. Tapi ia belum berani. Ya, mungkin karena umurnya yang masih 10 tahun. Setelah aku melakukan percakapan dengannya dia malah lari keluar bermain bersama teman-teman . Saat barang-ku akan aku bawa keluar, ada ninik masuk ke kamar. Ninik bertanya, ”lho, Ichad mau kemana kok pake baju pergi bawa tas  2 berat-berat?” “Ini baru noto buku ok, beres beres lemari. Mas Ichad mau pergi sebentar ke rumah temen (kan waktu aku pake baju pergi).” “oh yasuda”. Aku kebingungan, karena sudah mulai dicurigai. Aku berkata dalam hati, “pokoknya saat ini aku harus berhasil lari, kalau nggak nanti ninik pasti cerita sama bapak dan aku bakal lebih dipenjara, bahkan mungkin kesempatan untuk bertemu ibu di sekolah saja mungkin akan kandas”. Nah, saat aku melihat ada celah kesempatan untuk lari yang sangat kecil. Ninik sedang nyetrika di rumah satu, mbak nur (pembantu) sedang mengepel dengan posisi membelakangiku. Aku sudah tidak berpikir apa-apa lagi, pokoknya harus lari sekarang. Pada kondisi saat itu, tingkat keberhasilannya hanya 15%. Kalau sampai ketahuan, aku lebih memilih untuk bunuh diri. Akhirnya aku lari, dengan nyokor, nenteng sepatu, tas aku lempar keluar rumah, ak langsung lari. Waktu diluar, kaus kaki aku masukkan k etas, sepatu aku pakai dijalan. Saat aku lari keluar rumah, aku tidak berani lihat ke belakang. Setelah sekitar 100 meter, barulah aku memakai sepatu. Tas yang aku bawa saat itu hanya buku pelajaran.  Akhirnya, saat aku di depan  pos satpam perumahan, aku dicegat satpamnya. “dek kamu disuruh pulang sama ibu (pikirnya selama ini mbak nur itu ibuku)” “oh, iya pak” aku jawab begitu. Aku langsung panik. Lewat mana ini. Akhirnya,  aku ingat ada lapangan sepak bola yang tembusnya jalan besar. Aku langsung menuju kesitu.  Di tengah jalan, ada ‘gerombolan’ anak” komplek, dan disitu ada adikku. Salah satu temannya menanyai aku, “Mas Ichad mau kemana?” “Mau ke rumah temen”. Aku menjawab begitu.  Aku langsung lari melewati lapangan sepak bola, menyusuri jalan sempit yang berbelok”. Sampai akhirnya aku berada sekitar 500 meter ke barat dari pos satpam. Aku berpikir, jangan lewati jalan besar, nanti kalau dicari mbak nur bisa gampang ketauan. Ini juga jamnya biasa bpk pulang praktek.  Aku langsung kalau ada jalan kecil pilih lewat situ saja. Sampai aku melihat jalan buntu dan jembatan penyeberangan. Aku menyebrang, ternyata yang dibawahku itu jalan tol Banyumanik. Aku duduk sejenak di tangga jembatan itu. Berpikir harus kemana lagi. Tulang ekorku rasanya sudah perih sekali membawa tas seberat itu. Kakiku lecet pakai sepatu gk pakai kaus kaki. Mengerikan. Aku merasa ini adalah mimpi. Ingin rasanya bangun, tapi ini kenyataan. Aku teruskan perjalanan. Aku bertanya pada penduduk didaerah tempat aku berjalan, “bu, ini di daerah mana ya bu ?” “Ini di daerah Srondol Bumi Indah dik.,.,” Aku tercengang, berapa kilometer sih aku berjalan?? Aku ucapkan terima kasih pada ibu itu dan melanjutkan perjalanan.  Aku keluar dari perumahan itu. Akupun mondar-mandir mencari taksi. Tidak ada taksi yang kosong. Kemudian aku dihampiri supir angkot, “dik mau kemana?” “mau ke manyaran mas, ini lagi cari taksi” “Oh, mau saya antar gk dik ?”. Aku kaget, mana mungkin supir angkot jurusan daerah banyumanik-tembalang mau menganterku ke daerah manyaran? Aku menetujuinya saja. Kemudian aku sepakat dengan biaya 50rb berangkat. Aku kemudian menelpon ibuku menceritakan ada supir angkot yang berbaik hati. Akhirnya sampailah aku dirumah ibuku. Badan ini rasanya mau patah semua. Haaahhhh, lega rasanya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar